You are here
Beranda > Khazanah > Teliti Hidupmu : Kau Berasal Darimana? Di Dunia Untuk Apa? Nanti Kau Akan Kemana ..?

Teliti Hidupmu : Kau Berasal Darimana? Di Dunia Untuk Apa? Nanti Kau Akan Kemana ..?

Edisi Ramadhan : Bagaimana Kehidupanmu Setelah Kematian? – Oleh : Naufal Rachman

BacaArtikel.com – Kita sepakati dulu, bahwa semua agama memiliki isi ajaran kebaikan. Namun, bagaimana jika pertanyaannya kita ubah? Semua agama itu benar, atau semua agama itu ajarkan kebenaran? Maka dalam hal ini seluruh elemen agama mulai Islam, Kristen Protestan, Kristen Khatolik, Hindu, Budha, Khonghucu tidak akan sepakat. Sebab itu sudah berbentuk privasi keyakinan yang sangat internal.

Orang Islam mengatakan agama Islam lah yang benar, begitupun Kristen Khatolik atau Protestan, Hindu, Budha, Khonghucu mereka semua menyatakan agama merekalah yang benar. Namun, dalam konteks ini jangan sampai ada pertanyaan, yang manakah yang benar?.. Maka akan hancurlah isi artikel ini, ini hanya kalimat pembuka saja. Bukan hal itu yang ingin kami jabarkan.

Penulis ngalor-ngidul, fokus kebawah aja

Sesuai judulnya Teliti Hidupmu : Kau Berasal Darimana? Di Dunia Untuk Apa? Nanti Kau Akan Kemana ..? Dalam hal ini, kami hanya terbatas membahas dalam sudut pandang Islam saja. Tanpa membahas banyak dalil, dan sumber bersambung / sanad. Dan ini bukanlah sebuah pandangan mutlak dan harus dijadikan sandaran dakwah. Isi tulisan ini hanyalah sebuah sharing santai saja. Silahkan ambil kebaikan didalamnya, bila ada hal yang tak patut, dan tak bisa disepakati dalam segi makna yang haqiqi & bahasa, itu sepenuhnya merupakan kesalahan & kebodohan penulis. Baiklah, kita lanjutkan.

Kalau sudah mendengar istilah “MATI” sepertinya jika kita generalisir, kebanyakan orang mengatakan kematian itu menakutkan. Sedikit memutar otak “BAHWA KEMATIAN ITU SAKIT? IMAGE-NYA MENAKUTKAN?” Memang.. Tapi yang jelas “MATI ITU HAL YANG PASTI” mestinya bukan untuk ditakuti dan fokus kepada “SAKITNYA” tapi alangkah baiknya agar dipersiapkan, sepertinya itu lebih cocok.

Sedikit membahas tentang apa itu kematian dalam Islam : Mati adalah berpisahnya roh dengan jasad untuk sementara waktu yang telah ditentukan oleh Allah S.W.T.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).

Sepertinya ayat diatas sering sekali dibawakan ketika sambutan pada acara rumah duka. Boleh ini disebut asumsi sebab betapa seringnya orang yang mendengar ayat ini, nampak seolah lumrah dan maklum saja. Tapi tak ter-suntikkan itu getaran-getaran jiwa yang membuat kita menjadi lebih waspada. Di lisan bisa dengan keras kita katakan “TAKUT” dengan kematian, namun nampaknya tak pula tercermin dalam diri.

Mestinya gimana saya harus sikapi ini?

Sekedar saran dan bukan paksaan, alangkah baiknya lebih kita tingkatkan lagi, tingkat kepekaan kita dalam memaknai kematian. Apalagi ini bukan masalah yang sederhana juga sulit untuk disederhanakan, melainkan semestinya ini menjadi prioritas “UTAMA”.

Coba kita tanamkan kalimat ini. “Hal apa yang akan terjadi setelah kematian”?..

Apakah setelah kita mati, mati begitu saja. Selesai?.. tentu tidak..

Jika begitu yang enak hanya manusia dikalangan atas saja, yang sudah banyak sekali merasakan indahnya hidup didunia tak peduli dia berbuat baik atau tidak.

Dalam tuntunan Islam yang disimpulkan secara umum saja, bahwa kematian merupakan fase dimulainya mempertanggung jawabkan semua hal yang dilakukan selama kita hidup didunia.

ALLAH S.W.T sangat detail & sangat teliti?

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (Q.S. Al-Zalzalah: 7-8)

Apa yang ada difikiranmu jika membaca Firman Allah S.W.T diatas?

Sebesar apa “Biji Dzarrah” itu?

“Pendapat yang umum tentang Biji Dzarah dikias-kan sama besarnya dengan biji Sawi. Namun, berkembangnya ilmu Fisika modern hal tersebut terbantahkan, pada Fisika modern biji Dzarrah lebih kecil dari partikel sub atomik yang ada. Dan sub atomik jutaan kali jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan sebuah biji Sawi.

Lalu apa artinya ini?

Artinya ya sesuai ayat : Allah S.W.T berjanji tak akan melewatkan perbuatan meskipun seberat biji itu. (ITU KECIL SEKALI LHO)

Kalau di ibaratkan waktu kita pukul rata saja semisal 1 detik. Setiap 1 detik dari diri kita, Allah S.W.T berjanji akan persoalkan.

Seandainya aku bisa “HITUNG KOTOR” bagaimana perhitungannya?

Kamu yakin mau dihitung kotor?..

Dalam : Ada Mata, Hidung, Telinga, Mulut, Tangan, Kaki & (Panca Indera Lainnya)

Luar : Harta, Benda, Ilmu, Waktu & (Seluruh Elemen Lainnya)

Tak perlu semuanya. Coba kamu fokus sama “MATA” terlebih dulu saja.

Misal hidup kamu 63 tahun & kamu dewasa di usia 13 tahun, berarti 50 tahun.

(Beginilah kira-kira) Mata kamu pada usiamu ke 13, hari sekian, jam sekian, detik 1 kau gunakan untuk apa?

Jika pada hari perhitungan nanti 50 tahunmu di hisab Allah, maka jika dihitung “MATA”-mu saja akan menghasilkan waktu yang lama sekali. Kalau dihitung detik saja lama. Bagaimana jika detik itu terhitung waktu persoalannya? Dan ditambah dengan perhitungan variabel yang lainnya.

Sudah terbayang berapa lamanya?..

Sekarang kamu tambah lagi, durasi masing-masing manusia dan kamu harus menunggu mereka semua dihitung sebelum masuk giliranmu.

Berapa lamanya?.. (renungkan)

Agar kamu semakin yakin : boleh kita tengok gambar dibawah :

Alam dunia kamu habiskan semisal 63 tahun, alam kubur kamu harus menunggu hingga misalnya usia dunia 5000 tahun ..? Proses Kehancuran ..? Hari Kebangkitan ..? Padang Mahsyar ..? Hisab ..? Silahkan lanjutkan hitung kotor sendiri.

Bukankah suatu hal yang pantas jika kehidupan kita di dunia ini, kita jadikan sebagai bekal penunjang perjalan kita yang prosesnya jauh lebih lama dibandingkan hidup didunia yang sangat sebentar & hanya bersifat sementara. (na)